health

vehicles

business

Dari rakyat kecil untuk bapak jokowi

Asalamualaikum bapak!!!

"Inilah presiden yang saya banggakan!"

Begitu kira-kira pikiran saya berharap. Berharap agar rakyat lebih sejahtera. Berharap agar BBM tidak naik, dan tidak naik lagi. Berharap agar bahan-bahan pokok tidak mencekik. Berharap agar korupsi tidak semakin menjadi-jadi. Berharap agar tidak ada kriminalisasi. Berharap agar hukum dan keadilan semakin mumpuni. Dan masih banyak lagi, harapan-haran yang lainnya.
Ahh,,, Ternyata harapan itu sia-sia. Berharap hujan di musim kemarau, berharap mimpi di saat terjaga. Saya semakin apatis terhadap pemerintahan ini, meski tidak sampai pada tingkat nadir. Karena saya masih ingin ada perubahan. Ada kebijakan-kebijakan yang memihak kepada rakyat kecil. Saya pun tidak pernah berhenti berharap, doa yang selalu saya panjatkan. Semoga masih ada oase di padang gersang. Masih berharap embun di puncak kemarau

Bapak Joko Widodo yang saya Hormati 
Sejauh ini saya mencoba ber 'positive thinking' dan berusaha memahami semua kebijakan Bapak dan para mentri walaupun sebenarnya banyak yang saya tidak paham namun memaksakan diri untuk paham dan maklum.

Cukuplah pak... mohon cukupkanlah kesengsaraan rakyat!

Saya sebagai anak kampung sangat amat tersiksa dengan kebijakan yang bapak terapkan. Kami yang tingal di kampung saat ini sangat lah susah untuk mencari koin-koin apalagi lembaran-lembaran rupiah, ditambah lagi harga sembako yang naik secara perlahan tapi pasti, tahukah bapak? di kampung Kami Ada beberapa warung sederhana yang harus gulung tikar,
bapak bilang dengan lantang KERJA.. KERJA.. KERJA.. tapi kami tak dapat lapangan kerja.. yang ada malah kami harus gulung tikar,,, entah ini karna kesalahan kami atau kesalahan kebijakan yang bapak terapkan?

Kami baik-baik saja saat pemerintahan yang dahulu...

DAN....
Saya tidak sanggup lagi melihat dan menbaca berita-berita di media elektronik tentang karyawan-karyawan yang harus berobat menggunakan BPJS yang fasilitasnya sangat sangat sangat tidak manusiawi. Karyawan melahirkan jam 2 siang, jam 5 sore sudah disuruh pulang. Karyawan yg kakinya sudah membengkak karena infeksi, harus menunggu seminggu baru bisa dioperasi. Info dari dokter yg mengoperasi, telat 1 hari lagi saja karyawan tersebut akan kehilangan kaki (nauzubillah..)

Belum lagi berobat jalan yang harus mengantri bahkan sampai berhari2 dan tidak bisa masuk kerja karena harus urus ini itu untuk urusan BPJS yang ribetnya nauzubillah.

Pak Presiden yang terhormat,

Dulu kami baik baik saja... Kami menggunakan jaminan asuransi kesehatan dengan jumlah biaya yang hampir sama dengan yang kami bayar ke BPJS. Karyawan kami bisa berobat dengan sangat manusiawi, melahirkan dengan tenang, bisa menggunakan kelas 1 bahkan VIP.


Bapak... kami kerja sungguh sungguh sampai berhasil supaya dapat hidup layak!... Hidup secara 'civilized'! Tapi pelayanan kesehatan BPJS yang diberikan negara tidak civilized...., namun kami dipaksa untuk ikut... !!!

Kami juga tidak bisa complain ke RS atau petugas, karena kami juga mendengar segudang permasalahan yang mereka (BPJS) hadapi.

Pak Presiden yang terhormat,

Belum selesai masalah BPJS Kesehatan, sekarang karyawan swasta dipersulit lagi dengan pencairan dana pensiun BPJS.

Bapak yang baik....,

Tidak taukah Bapak seberapa banyak karyawan swasta yang terbantu dengan mencairkan dana pensiun BPJS?? (dulu namanya Jamsostek)

Adakah Bapak punya data berapa jumlah karyawan swasta yang sekarang sudah menjadi pengusaha setelah mencairkan dana pensiun mereka untuk membangun usaha? Atau untuk menyekolahkan anak, atau untuk membeli rumah, atau membeli sesuatu yang mereka butuhkan sekarang...! Bukan nanti pada saat mereka berumur 56 tahun...!


Percayalah bapak... karyawan swasta juga tidak bodoh menyia2kan hari tua mereka. Apa karena negara takut terbebani orang lanjut usia, takut mengurus orang cacat sehingga dana yang sebenarnya bisa diambil sewaktu mereka masih sehat dan produktif supaya bisa meningkatkan usaha.. harus ditahan negara sampai mereka tua atau cacat??

How poor we are!

Masih kurangkah uang negara pak? Kemana hasil kekayaan bumi Indonesia ini yang membuat negara lain iri namun ternyata rakyatnya tetap sengsara??

Belum lagi uang yg terkumpul dari pajak!

Taukah Bapak bahwa THR Karyawan dipotong langsung 25% untuk membayar pajak???

Kami kerja mati2an namun 1/4nya harus diserahkan ke negara yang saya sendiri tidak yakin akan dimanfaatkan sebesar2nya untuk kepentingan rakyat... Hikssss!

Pak Presiden Jokowi yang baik hati,

Tentang kenaikan harga bahan bakar minyak, kami mungkin tidak pandai berhitung: Bagaimana sebenarnya harga minyak ditentukan? Bagaimana neraca perekonomian nasional diperlakukan? Atau pertimbangan apa yang dipakai sehingga satu-satunya pilihan untuk ‘menyelamatkan seluruh bangsa dan negara’ harus sama dan sebangun dengan menaikkan harga-harga?
Bagi kami, angka-angka selalu terdengar sebagai ilusi belaka, Pak. Setiap hari kami mendengar satuan ‘miliar’ atau ‘triliun’ disebutkan dalam berita-berita, tanpa pernah benar-benar melihatnya dalam bentuk yang sesungguhnya—apalagi menghitungnya satu per satu.
Hidup kami sederhana, disambung lembaran-lembaran uang recehan. Ilmu hitung kami kelas rendahan: Berapa untuk makan sehari-hari, uang jajan anak sekolah, biaya transportasi, biaya listrik bulanan, dan kadang-kadang cicilan motor, dispenser atau DVD player.
Tak perlu kalkulator. Bila sedang beruntung, kami bisa punya sisa uang untuk jalan-jalan di akhir pekan. Bila sedang sulit, kami tidak kemana-mana, Pak: Kami mencari kebahagiaan gratisan di televisi—meski kadang-kadang justru dibuat pusing dengan berita-berita tentang pejabat-pejabat negara yang korupsi.

Tahukah Bapak, di televisi, juga koran-koran dan majalah: Kami seperti tak punya presiden! Kami seperti tak punya pemimpin! Negara ini terlanjur dikuasai para bandit dan bajingan tengik yang hanya tahu tentang memperkaya diri sendiri! Ah, mungkinkah Bapak tak sempat menonton TV atau membaca koran sehingga Bapak tak mengetahuinya? Tapi, kemana saja sih Bapak selama ini? Ngapain saja di istana? Mana janji-jani Bapak yang dulu terdengar indah dan gegap gempita?
Kami, rakyat biasa, sesekali butuh kabar gembira, Pak. Kadang-kadang kami berkhayal bahwa jangan-jangan kami ini sedang hidup dalam sinetron? Mungkinkah yang duduk di istana negara itu bukan Bapak—tapi kembaran Bapak yang menyamar atau tertukar? Kemana Bapak yang dulu penuh semangat untuk menyejahterakan rakyat? Lupakah Bapak pada janji-janji Bapak? Mungkinkah kepala Bapak terbentur batu dan lantas hilang ingatan?

Pak Presiden yang baik,

Harga BBM terlanjur naik… Sempat juga turun, tetapi kemudian naik lagi, dan naik lagi. Konon ia mengikuti mekanisme pasar, bergantung pada naik-turun harga minyak dunia. Tapi, Pak, di pasar-pasar becek yang kami tahu, ketika harga sudah terlanjur naik karena BBM naik, ia tak kenal kata turun lagi! Apakah Bapak juga mau menyerahkan nasib kami kepada mekanisme pasar dunia? Alamak!
Lihatlah pejabat-pejabat anak buah Bapak yang hanya bisa meminta kami bersabar dan mengerti! Dengan gagah dan seolah baik hati konon mereka akan memberi kami kompensasi: Membuat kami mengantre untuk mendapatkan uang bantuan agar kami tak merasa kesulitan.
Tapi, pikiran kami sederhana saja, Pak, benarkah Bapak suka melihat kami mengantre—panjang-mengular dari Sabang sampai Merauke? Kami tidak suka itu, Pak. Kami tak suka terlihat miskin, apalagi menjadi miskin. Kalau memang Bapak punya uang untuk dibagikan kepada kami, pakailah uang itu, kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan ‘perekonomian nasional’ yang konon tak kuasa menahan gertakan dollar Amerika dan gejolak harga minyak dunia.
Pak, sudahlah, tak perlu mengeluarkan kartu apa-apa lagi… Dompet kami sudah cukup tebal dengan kartu-kartu, tetapi sekaligus hanya memuat lembar-lembar rupiah yang makin hari makin tipis. Sudahlah tak perlu menyalahkan siapa-siapa, berdirilah untuk membela kepentingan dan nasib hidup kami.
Ada apa dengan Bapak ini? Tak perlu takut siapa-siapa, Pak! Bila Bapak disandra mafia, pejabat-pejabat yang bangsat, atau pengusaha-pengusaha yang menghisap rakyat, tolong beritahu kami: Siapa saja mereka? Kami akan bersatu untuk membantu Bapak melawan dan melenyapkan mereka. Tentu saja, semoga Bapak bukan salah satu bagian dari mereka!
Pak Presiden yang baik,
Dengarkanlah kami, berdirilah untuk kami, berbicaralah atas nama kami, belalah kami: Maka kami akan selalu ada, berdiri, bahkan berlari mengorbankan apa saja untuk membelamu. Berhentilah berdiri dan berbicara atas nama sejumlah pihak—membela kepentingan-kepentingan golongan atau partai. Berhentilah jadi bagian dari mereka yang ingin kami benci sampai mati. Jangan jadi penakut, Pak Presiden, jangan jadi pengecut!
Buanglah kalkulatormu, singkirkan tumpukan kertas di hadapanmu, lupakan bisikan-bisikan penjilat di sekelilingmu! Lalu dengarkanlah suara kami, tataplah mata kami: Tidak pernah ada satupun pemimpin di atas dunia yang sanggup bertahan dalam kekuasaannya jika ia terus-menerus menulikan dirinya dari suara-suara rakyatnya!
Pak Presiden,
Sekali lagi, tentang kenaikan harga minyak, barangkali kami memang tak pandai berhitung. Tapi, sungguh, kami tak perlu menghitung apapun untuk memutuskan mencintai atau membenci sesuatu; Termasuk mencintai atau membencimu!
-Dari seseorang yang dulu mendukungmu, yang kini merasa kecewa karena Bapak menyia-nyiakan dukungan itu!


Maaf pak Presiden... maafkan saya... karena saya akhirnya 'quit' mendukung kebijakan pemerintahan Bapak!

1 komentar: